DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Satrio Arismunandar: Dwianto, Penulis Anak, Penyemai Mimpi

image
Penghargaan untuk almarhum Dwianto Setyawan (Foto: Istimewa)

ORBITINDONESIA.COM - Di kaki gunung, di Desa Sisir yang sejuk,
dari rahim Claudia, putra Subianto menjelma pelita,
tanggal dua belas Agustus empat sembilan,
lahirlah Dwianto, kelak ia menggambar langit anak-anak
dengan warna-warna ajaib dari pena dan cinta.

Anak “tansar”, dari wetan pasar,mmpi
tumbuh di gang kecil yang tak pernah sempit
bagi dongeng-dongeng yang mengalir dari mulutnya,
anak-anak kecil duduk melingkar
menyimak semesta yang tumbuh dari imajinasi seorang bocah.

Dari Santo Yusup hingga Alun-Alun Bunder,
pelajaran hidup lebih keras dari sekadar kelas.
Ia putus sekolah, namun tidak putus harapan.
Ia merantau ke Jakarta, jadi pekerja kasar,
tapi di balik seragam dapur dan ceceran lelah,
ia tetap memeluk mimpi: bercerita… untuk anak-anak.

Baca Juga: Sebanyak 37 Buku Penulis Dunia Diluncurkan pada IMLF-3 Tahun 2025 di Kota Padang, Sumatra Barat

Sakit mag membawa ia pulang,
tapi sakit tak mematikan harapan.
Ia menggambar, mengarang, dan menemukan jalannya.
Dalam sunyi malam, ia kirimkan karikatur,
ia kirimkan kisah-kisah kecil dengan hati besar
ke Bobo, Kawanku, Gadis, Femina —
dan Kompas pun menerima pikirannya
tentang dunia kecil yang kadang dilupa: dunia anak-anak.

Buku pertamanya, Si Rejeki,
bukan kisah pangeran, bukan kisah peri,
tapi tentang seekor kuda penarik pedati
yang hidup di lorong-lorong kehidupan sederhana.
Ia tidak menulis dari menara gading,
ia menulis dari tanah, dari pasar, dari jantung desa,
dari mata anak-anak yang menatap langit
dan bermimpi bisa terbang seperti Kapten Pus atau Kapten Surya.

Anak-anak mengenalnya dari halaman-halaman
di perpustakaan sekolah, proyek Inpres, atau toko buku Togamas.
Petualangan Grung-Grung, Teka-teki Kelompok 2&1,
kejenakaan Dulken, siasat Sandi, keberanian Triona—
semuanya bukan sekadar hiburan,
melainkan lentera kecil yang menyala di ruang-ruang baca
di sekolah negeri hingga pondok kecil di kampung pesisir.

Baca Juga: IMLF-3 Berikan Penghargaan Pada Penulis Berprestasi dan Prolifik, Leni Marlina dan Ramli Djafar

Ia bukan sekadar penulis.
Ia penyemai mimpi anak-anak Indonesia.
Ia menuliskan masa depan, bukan lewat teori,
melainkan lewat tawa, teka-teki, dan petualangan
yang membesarkan nyali bocah-bocah yang membaca.

Rumahnya di Samadi, bukan hanya tempat tinggal,
tapi juga sanggar: DS Grup—
tempat seniman berkumpul, melukis dunia anak.
Ia tahu: cerita anak bukan hanya teks,
ia hidup bersama gambar, warna, gerak.
Dan ia rangkul semua pelukis untuk berbagi mimpi.

Ia cinta dunia anak karena ia paham:
anak-anak adalah bangsa yang belum dilahirkan,
dan lewat cerita, ia bimbing mereka lahir
dengan harapan, nilai, dan kegembiraan.

Baca Juga: Dinas Perpustakaan Pariaman Selenggarakan Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal

Tidak semua penulis bisa menulis untuk anak.
Butuh jiwa yang jernih, imajinasi yang hangat,
dan hati yang tidak pernah letih bermain.
Dwianto punya semua itu.
Dan ia beri semuanya kepada negeri ini.

Halaman:

Berita Terkait