Kanal Asmara di Tengah Parit Kebencian: Membaca SAKTI Sastri Bakry
- Penulis : Abriyanto
- Selasa, 19 Agustus 2025 00:10 WIB

Oleh Dikdik Sadikin*
ORBITINDONESIA.COM - Ada buku yang lahir seperti cahaya lilin di tengah malam panjang. Tidak besar, tapi cukup untuk menyingkap wajah-wajah yang resah dalam gelap. SAKTI, kumpulan puisi tiga bahasa karya Sastri Bakry, adalah lilin semacam itu. Ia menyala dengan sederhana, tapi suaranya menjangkau jauh: dari Padang ke Den Haag, dari Boven Digoel ke Sungai Gangga, dari Simeulue hingga Haneda.
Seorang filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, pernah menulis: “Kita memiliki seni agar kita tidak mati karena kebenaran.”
Barangkali itu pula yang dirasakan Sastri. Ia tahu kebenaran sejarah sering kali terlalu getir untuk ditanggung, maka ia menuliskannya dalam puisi, agar luka tidak membunuh, melainkan menyembuhkan.
Baca Juga: Puisi Satrio Arismunandar: Di Gaza, Dunia Memalingkan Wajah
Guruku Baik Sekali: Kenangan yang Menjadi Pohon
Puisi pembuka ini adalah sebuah elegi sederhana untuk guru. Tapi lebih dari itu, ia adalah peringatan bahwa pengetahuan bukan sekadar angka dalam rapor, melainkan akar yang menegakkan hidup.
Kata-kata guru dianalogikan sebagai bunga yang “berputik lalu mekar di kebun pemikiran.”
Di Finlandia, guru dipandang setara dengan dokter atau hakim, profesi dengan prestise tinggi.
Di Indonesia, guru lebih sering disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”. Sastri merayakan mereka dengan cara yang lain: memberi mereka keabadian dalam bait-bait.
Ada paradoks manis di sini: mata guru tajam, tapi hatinya lembut “seperti pokpia di kantin sekolah.” Sebuah perbandingan yang nyaris banal, tetapi justru menghidupkan keintiman. Mengingatkan kita, kata Rabindranath Tagore, bahwa “Seorang guru sejati melindungi muridnya bukan dengan otoritas, tetapi dengan cinta.”
Baca Juga: Puisi Satrio Arismunandar: Dwianto, Penulis Anak, Penyemai Mimpi
Kelam di Malam Kelam: Penantian yang Tak Kunjung Usai